Setiap orang pasti pernah mengalami perasaan lemah, ragu atau cemas di tempat kerja dan mencoba untuk meminimalkan atau mengabaikan emosi-emosi itu bisa berdampak buruk, bahkan membuatnya makin besar. Para pemimpin bisnis yang efektif tidak larut begitu saja dalam emosi mereka atau menekan emosi mereka secara tidak sehat. Idealnya, seorang pemimpin bisnis perlu mengembangkan sebuah kelincahan emosional, suatu ketrampilan yang membuatnya lebih leluasa mengadakan pendekatan dengan emosi-emosi dalam dirinya dengan cara yang lebih produktif dan penuh kesadaran.
Praktik ini dapat membantu Anda untuk melakukan hal yang sama:
- Kenali pola emosi Anda: Dalam kondisi apa saja pikiran Anda menjadi kaku dan repetitif, bekerja secara monoton dan membosankan? Itulah tandanya bahwa Anda sudah terkait dengan sebuah emosi atau perasaan.
- Berikan label pada pikiran dan emosi Anda: Hal ini memungkinkan Anda memandangnya dengan seobjektif mungkin, yaitu sebagai sumber data yang terus mengalir dan bisa jadi berguna atau tidak bagi Anda dalam menjalankan kepemimpinan bisnis. Dengan mengambil sudut pandang netral dan menyeluruh (general/ umum) terhadap perasaaan dan emosi yang ada dalam diri, upaya untuk menyederhanakan situasi akan lebih mudah. Jadi alih-alih berpikir,"Karyawan saya salah dan malas - ia membuat saya marah besar hari ini" menjadi "Saya sedang memiliki pikiran bahwa karyawan saya salah dan malas dan saya merasakan kemarahan atas pikiran itu."
- Terima perasaan itu dengan sikap terbuka: Perasaan dan emosi ini mungkin menandakan bahwa sesuatu penting tengah menjadi pertaruhan atau berada di kondisi kritis, misalnya prinsip dan budaya perusahaan. Hal ini menjadi peluang bagi Anda untuk bertindak lebih tepat sasaran terhadap sumbermasalah, bukan dengan menciptakan masalah baru. Dengan menelaah emosi seperti ini, Anda akan dapat memimpin dengan lebih bijak dan efektif dalam keseharian mengelola bisnis.(HBR/*Akhlis)
0 comments:
Post a Comment