Menentukan Harga Jual Melalui Strategi Markup

shares |


Menentukan Harga Jual Melalui Strategi Markup



Harga berperan besar dalam menentukan keberhasilan bisnis, terutama yang bergerak di bidang penjualan barang atau produk. Selain untuk hasilkan profit, harga suatu produk juga disinyalir mampu membuat pelaku bisnis bertahan dari gempuran kompetitor. Penetapan harga ini tentunya harus berdasarkan berbagai macam pertimbangan, seperti biaya operasional, kondisi pasar, level bisnis serta keinginan untuk memeroleh laba.

Menetapkan harga barang atau produk memang tak mudah. Selain pertimbangan yang telah disebutkan sebelumnya, persaingan bisnis juga harus dipikirkan dalam menentukan harga barang tersebut. Jangan sampai harga yang Anda tetapkan terlalu tinggi atau terlalu rendah dari harga kompetitor karena hal itu akan memengaruhi profit, proses pengadaan barang serta kredibilitas usaha.

Menurut Barbara R. Simonich, akuntan publik bersertifikat seperti yang dilansir dari situs eHow, menentukan harga merupakan tugas tersulit sekaligus menantang bagi para pemilik bisnis. Ada banyak metode yang dapat dipakai dalam menentukan harga ini, salah satu contohnya adalah metode harga kompetitif yang dibuat untuk bersaing dengan harga kompetitor. Harga kompetitif ini dianggap yang paling sesuai diterapkan bila ingin bertahan dari kompetitor yang menjual produk sama atau bila pasar telah menentukan harga untuk produk yang dimaksud. Metode itu menghasilkan strategi markup dalam menetapkan harga jual dan paling banyak ditempuh oleh pelaku bisnis ritel serta grosir.

Markup pada dasarnya adalah prosentase penambahan sejumlah biaya ke dalam biaya produksi untuk memeroleh harga jual. Proses ini biasanya dilakukan setelah biaya produksi ditetapkan. Biaya produksi itu sendiri tak hanya berkaitan dengan ongkos operasional dalam memproduksi produk tetapi biaya keseluruhan yang di dalamnya menyangkut biaya untuk gaji karyawan, biaya pemasaran dan lain sebagainya.

Markup yang dapat didefinisikan sebagai selisih antara ongkos memproduksi barang dan harga jual, menurut sejumlah ahli juga turut dipengaruhi oleh potongan harga/diskon, profit serta omzet/pendapatan dari penjualan. Hal ini tentunya harus sesuai dengan kondisi bisnis dan kondisi ekonomi yang semua datanya diperoleh dari riset. Nah, potongan harga atau diskon yang dimaksudkan dalam penjelasan sebelumnya adalah kebijakan yang Anda buat bila penjualan ternyata mengalami sisa atau dengan kata lain produk tak laku. Untuk menambah profit atau setidaknya menutup biaya produksi, langkah memangkas harga perlu Anda ambil.

Untuk lebih mudahnya, berikut adalah contoh menentukan besarnya prosentasemarkup :
  1. Tambahkan biaya operasional/biaya produksi, potongan harga/diskon, profit. Misal, bisnis Anda adalah memproduksi boneka dengan biaya produksi sebesar Rp500.000, lalu potongan harga yang Anda tentukan katakanlah sebesar Rp250.000. Dengan profit yang ingin diraih sebesar Rp500.000 maka penghitungannya sebagai berikut : 500.000 + 250.000 + 500.000 = 1.250.000
  2. Tambahkan proyeksi total penjualan yaitu seberapa besar omzet yang Anda inginkan dengan potongan harga. Misalkan proyeksi omzet sebesar 750.000, jadi penghitungannya sebagai berikut : 750.000 + 250.000 = 1.000.000
  3. Bagi hasil dari langkah pertama dengan langkah kedua lalu hasilnya kalikan dengan 100, jadi penghitungannya sebagai berikut : (1.250.000/1.000.000) x 100 = 125%.

Setelah memeroleh besarnya prosentase markup, Anda bisa menghitung harga jual dengan rumus penghitungan sebagai berikut: total biaya produksi dikali dengan hasil dari 1 ditambah dengan prosentase markup yang telah dikonversikan ke bentuk desimal dengan cara membaginya dengan 100.

Sesuai contoh di atas, besarnya markup yang diperoleh sebesar 125 persen dan biaya produksi sebesar Rp500.000 maka harga jualnya: 500.000 x (1+1,25) = 1.125.000. (*/ely)

Related Posts

0 comments:

Post a Comment